Karena Mimpi kita berawal dari Sepatah Kata

Karena Mimpi kita berawal dari Sepatah Kata

Sabtu, 23 Mei 2015

How to make pencil case from former bottle (Cara membuat kotak pensil dari botol bekas)


                Dalam kehidupan sehari-hari, pemakaian bahan-bahan kimia sudah tidak bisa dihindari lagi. Padahal banyak senyawa dalam bahan kimia yang membahayakan kesehatan. Meskipun, kita tidak secara langsung mengonsumsi bahan kimia tersebut. Kita hanya mempergunakannya sebagai wadah. Contohnya saja, botol (mulai dari botol air minum, shampoo, conditioner, sabun cair, parfum, pewangi, hand body, pelembab, dsb). Namun, bukankah hal tersebut juga dapat membuat polusi bagi kehidupan?
                Kita memang tidak bisa menghindari itu, namun kita bisa memanfaatkan itu menjadi  barang yang berguna. Kali ini kita akan membuat kotak pensil dari botol bekas.




Bahan & alat:

-        A.   Botol bekas
Bisa dari botol shampoo, hand body, conditioner, pewangi, make up, detergen dll (keliatan banget ya yang suka bikin polusi itu para gadis :V ). Kemudian botolnya dicuci sampai bersih.


-          B. Cutter, gunting

Steps:
1.       Setelah botol bekas bersih, potong ujungnya menggunakan cutter.


2.       Bentuk ujung yang dipotong menjadi gambar abstrak atau bisa dibentuk sesuai kreasi. Bisa menggunakan pola atau langsung digunting.


3.       Beri double tip tebal sebagai perekat ke dinding.


4.       Tambahkan glitter untuk mempercantik.


5.       Kotak pensil siap digunakan. (jangan lupa untuk melepas plastic belakang double tip tebal dan rekatkan ke dinding)


Simple, Kan?

Selain mudah, bahan pelengkapnya murah, kita dapat mengurangi banyaknya limbah. Salam go green!

Kunjungi https://www.youtube.com/watch?v=zcl0S-6ZY-Y&feature=youtu.be untuk tutorialnya. selamat mencoba! 

Minggu, 17 Mei 2015

Romansa Cinta “Gus Dur & Sinta”


“Saya bingung mau ngomong masalah cinta sedangkan saya sendiri belum baligh,” Ujar Aguk Irawan MN. Sang narasumber yang didatangkan langsung dari Jogjakarta.
Maka meledaklah tawa para peserta yang terbagi dalam dua barisan-yang (tak) rata komposisinya. Yups, siapa lagi kalau bukan peserta bedah novel “Gus Dur & Sinta” (Sebuah romansa tentang buku, bunga dan cinta) di Ponpes Edimancoro pada ahad, 17 Mei 2015. Sesuai dengan judul di atas, maka tema pembicaraan pada majlis yang insyaallah mubarokah ini adalah CINTA.
Tengterengtengteng…
(Dijamin nggak ada yang ngantuk deh… terutama yang nulis. Hhe-)
Sebagai seorang profil politikus, ulama dan pengajar yang namanya sudah mendunia, ternyata Gus Dur (panggilan akrab KH. Abdurrahman Wahid) mempunyai kisah cinta yang to tweet melebihi drama korea yang berpuluh-puluh episode itu.
Dibocorkan sedikit oleh Sang penulis (Pak Aguk), bahwasanya Bu Sinta yang trauma dengan persoalan cinta tidak kunjung menanggapi perasaan Gus Dur. Meskipun begitu, bukan Gus Dur namanya jika menyerah-rah-rah.
Beliau tak kurang akal, mulai dari mendekati ayah dari Bu Sinta dengan alasan main catur, mengiriminya surat yang romantis tanpa unsur anarkis, sampai pemberian buku dan bunga yang dari berbagai belahan dunia (waktu itu Gus Dur berada di Mesir, Baghdad, dan Perancis).
Bahkan, ketika sudah berumah tangga unsur keromantisan beliau tidak luntur begitu saja. Ketika marah, Gus Dur tak berani menyampaikan langsung pada Bu Sinta. Tetapi menuliskannya dalam secarik surat yang diperuntukkan kepada istri tercintanya.
Acara tersebut juga menghadirkan seorang narasumber dari magelang, Bpk. Muhtadi. Seorang cerpenis Jawa Pos yang juga alumni Al-Azhar, cairo-Mesir tersebut juga turut menyampaikan romansa kisah cinta Gus Dur dan Bu Sinta.
“Pada suatu acara kenegaraan, lengan baju Gus Dur terlipat dan kelihatan bekas setrika. Temannya pun menegur dan menyarankan untuk ganti baju. Namun, apa jawab Gus Dur? Beliau berkata, ‘biar saja. Kasihan istri saya yang sudah capek menyetrika-kan,” Ujarnya yang ternyata berasal dari Pati itu.
(Aah, serasa ketemu dengan saudara!)
Kemudian baru saya tahu bahwa beliau juga alumni dari MA ku dulu.
(Aah, serasa ketemu dengan keluarga!)
Back to topic. Zzzz
Pak Aguk yang melanjutkan studinya di UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta mengungkapkan,”ini adalah novel terlama yang saya buat. Sekitar 10 hari”
10 hari? Lama? Bahkan saya sendiri harus mendeskripsikan kata ‘lama’ tersebut. Karena penasaran dengan seorang yang telah menulis 70 novel itu, maka diberikanlah tips-tips menulis novel.
Mengutip dari notes book saya yang berwarna cerah tersebut, maka dibawah ini adalah tips-tips menulis novel ala ak Aguk:
1.       Sisakan waktu, istiqomahlah!

Menulis itu fleksibel. Boleh bagi siapa saja. Tidak ada waktu? Hmm, mari dengarkan ceramah beliau barang sebentar:
        “Setiap hari saya melihat seorang tukang bakso. Ia tak pernah absen berjualan. Semua orang dilayaninya. Entah yang pake mobil, motor bahkan yang jalan kaki pun iya. Mau laki-laki, perempuan, tua ataupun muda tidak mendapatkan perlakuan yang belakangan ini disebut dengan diskriminasi. Itu yang tukang bakso, padahal kerja sebagai tukang bakso itu lebih sulit daripada seorang penulis.”
        Menyikapi hal tersebut, beliau menyisakan waktu khusus di pagi hari untuk menulis. Sedikit tapi istiqomah. And see? Beliau dapat menulis satu novel hanya dalam satu minggu.

2.       Buat draft

Banyak penulis pemula yang ide-idenya bermunculan di ruang otaknya namun ketika sudah berhadapan dengan keyboard, ujung jemarinya menggantung dua senti. Hilang, blank, zonk!
Maka dari itu, penulis yang juga mengajar di ponpes Pandanaran dan Krapyak tersebut menyarankan untuk membuat draft per bab nya.

3.       Data.

Nggak keren dong kalau novelmu tanpa background yang bermutu? Maka dari itu, tulisan harus didukung dengan data yang valid. Bisa dari riset/penelitian atau wawancara dengan sumber terkait.

4.       Punya target

Yang satu ini absolutely kudu dicantumin dalam notes. Bukankah dengan target kita lebih termotivasi?

“Sebuah tulisan adalah salah satu cara untuk bahagia, tertawa bahkan membunuh kesedihan,” Ujar salah satu dari dua narasumber hebat tersebut.



Kamis, 15 Januari 2015

EPISODE HARI INI (LAST PART)

Setelah tanya kurang lebih tiga kali, sampailah kita berdua di Unnes tercinta. Tadaaaa!

Karena kita memang belum pernah mengambah tanah Unnes, maka dengan gaya sok pede plus celingukan kita melaju ke tempat tujuan. Jalan beraspal itu menanjak naik. Menyisakan kenangan memilukan sore itu.
Karena masing-masing dari kita sudah terlalu malu untuk bertanya, maka kami putuskan untuk sok punya ‘indra’ backpacker-an. Nyatanya, kita pun tersesat lagi.
“Mbak, kalo kampus Unnes itu mana ‘sih?” tanyaku setelah berbasa-basi pada dua orang perempuan berhijab yang (tentu saja) tidak kukenal.
“Itu mbak, naik aja terus.. ntar ngikutin jalan. Nanti ketemu lampu merah,”
Ngek-ngok! Gueh kan tanya Unnes. Bukan lampu merah, keles..
Tapi kitanya ya nurut aja. Wong saking malunya buat tanya orang lagi. Untung aja nggak ada orang asing tanpa kerjaan yang membuntuti kami berdua. (eh? Lagi Ge.Er?)
“Mbak Iza!!”
Aku menoleh. Mana ada orang Unnes yang kenal seorang kuper, pendiem, sama sekali unfriendly kaya aku?
Mbak Faza? Bukan, dia di Jogja. Aku sejenak berpikir, dia siapa?
 Kejadian ini mengingatkanku pada saat aku dan rombongan mengunjungi ponpes Tegalrejo yang di Magelang itu. Dia juga meneriakkan nama cantikku. Seorang lelaki dengan kacamata dan sarung kotak-kotak (Karena saya nggak menyebut baju, jangan berpikir dia nggak pake baju, ya!). Eh, bukannya aku menyahut atau melontarkan pertanyaan sederhana.. tapi malah kabur. Hh, dasar pemalu!
“Mbak Hikma??”
Aku menemukan mentari yang sedang menutup diri. Stok senyum terkembang. Melebar, senang. Ternyata dia teman RA (Raudlatul Athfal) ku dulu. Asiik, punya temen!
Akhirnya, aku diantarnya ke gang nangka yang kami tuju. Ahh, sore yang dipenuhi oleh orang-orang baik. Barokallahulakum.
***
Namanya juga area kos-kosan. Ya pasti rame mahasiswa-mahasiswi yang hilir mudik. Suasananya tentu berbeda dengan Salatiga tercinta. Antara warung makanan perut dan warung makanan handphone sebelas duabelas. Sama banyaknya, sama sesaknya.
 Aku menikmati telur penyet yang dipanggang itu. Lalu mengaduk-aduk jus strawberry sambil melepas rindu. Lagi-lagi liburan semester 2 kemarin adalah terakhir kita bermuwajjahah.
Aku tidak sengaja saja dekat dengannya. Hanya karena dia belakang bangkuku dan terlihat riang gembira setelah aku bercas cis cus sana-sini. Dan mulailah waktu itu dia yang pendiam membuka tabir suara. Hingga curhat sepanjang masa yang sampai detik ini masih sering kita lakukan bersama.
 “Kira-kira kita nanti bisa kayak gini lagi nggak, ya?” tanyanya saat pulang dari pantai suatu hari saat kami masih duduk di kelas XI.
“Kalo kita ‘jodoh’ pasti dipertemukan lagi kok. Percaya deh.. meskipun rukun iman nggak ada yang nyebutin kudu percaya sama Izzah Khoiri yang cantik jelata ini,”
Tawanya mengudara. Dia setengah bangun, menghujaniku dengan rumput hijau yang tanpa pewarna buatan itu.
“Serasa kaya di film-film India, ya” ungkapku yang mencoba merasakan kenikmatan berbaring di hamparan rerumputan yang tak bergoyang.
Maklum, kan.. film India masih menjadi Hits tersendiri di sudut hati kaum wanita. Tapi, jangan harap ‘Jodha Akbar’, ‘Mahabarata’ ataupun ‘Doom 3’ yang jadi trending topic. Melainkan ‘Mohabbatein’ atau tetap saja ‘Kuch-Kuch Hotahai’ yang aku sendiri lupa ceritanya.
Dia rebah di sisiku. Mencoba melukis langit mimpi dengan kuas harapan. Ketika kita mengeluarkan satu senjata andalan kita untuk berfoto ria (Waktu itu ‘selfie’ belum memasyarakat ya, teman!) tiba-tiba Elly, temanku yang jauh di depan kami berteriak..
“Heeei.... tadi ‘kan disitu ada ularnya!!!”
Jebrettt.
Ada yang membidik rasa kemanusiaan kita. Kita lari pontang-panting sambil meninggalkan jejak tawa. Jejak yang sampai saat ini hujan saja tak mampu menghapusnya.
***
Karena aku sudah makan dan gerah tak tertahankan, kucoba mencari angin di depan TV (yang entah berapa inchi, aku lupa mengukurnya) di depan kamar kos shohibku itu. Sambil mendonorkan darah secara free (pada nyamuk-nyamuk jalang yang rupanya menyukai kaki jenjangku) aku menyimak acara TV dan bertukar cerita malam. Sambil juga, membuka MS Word untuk memberi ruang pada otakku yang terus-menerus update status. (uh, dasar wanita sambilan)
“Say, aku besok pulangnya ba’da Shubuh ya!”
Itu lebih ke pernyataan. Bukan pertanyaan.
“Kenapa?” seseorang yang kupanggil ‘say’ itu memandangku. Aku hanya berdoa, semoga dia tak tertarik padaku. Hh, Ge.Er lagi?
“Tau sendiri ‘kan.. kalo aku belom punya SIM. Kalo ditilang sama pak polisi yang muda, ganteng dan rajin ibadah jadi belum bisa diajak ijabsah,”
Dia menowel lengan kiriku. SIM yang kumaksud itu, surat izin menikah. Ahh, emang ada? Ada dong, ditandatangani langsung sama bapak masing-masing lagih.
***
Say, di almarimu yang paling bawah aku ninggal sampah.

SMS (Short Messages Service) itu kukirim setelah sampai di Ma’had tempatku bernaung. Tentu saja setelah melewati jalan Semarang-Salatiga yang lengang kaya kuburan. Ya jelas, wong anak sekolah sama orang kerja belum pada berangkat. Pak polisi yang muda, ganteng dan rajin ibadah itu juga masih tidur.

Ehh, kamu ngapain? Aku lagi dikampus ini.

Ya udah, diliat ntar aja.

Sebuah mini novel dari stand Diva Press yang kubeli sorenya dan seperangkat kerjaanku kupersembahkan khusushon untuknya. Malam sebelum itu, selepas maghrib sampai jam 12 aku membuatkannya hadiah dadakan. Aneh sih, tapi seenggaknya kan hand made (menghibur diri sendiri nih, ye!). Terlepas dari itu, sampai tulisan tak berkerangka ini dibaca olehnya dan telah menghabiskan satu gulung tissue toilet (bukan karena terharu ya.. tapi karena pilek) aku belum memberitahunya apa fungsi benda yang menyaingi manis-ku ini.
Ini bacanya 'Happy Birth Day' ya.. anggep aja gitu. 
Jadi,.. yang bawah adalah tempat jarum penthul sementara atasnya itu bros dari tutup botol bekas. Sekarang ngaku deh. Selain sarimbit, juga kelihatan sweet abees kan? (edisi maksa)


Dan,
Begitulah tasty-nya di sepotong episode hari ini. Karena ini adalah last part, maka.. see U in the another episode saja. Maka,  persahabatan mempunyai rasa yang unik untuk bertukar cerita.
***
Sahabat tidak mengisi harimu saat kau minta. Apalagi saat kau sedang enggan dan justru melabeli ke-ada-annya. Sedangkan kita? Mau tidak mau harus tertunduk malu mencoba mengejar keberadaannya. Naas memang, tapi tidak untuk cerita dalam episode hari ini.


Senin, 22 Desember 2014

Terkadang Jarak Membuat Kita Dekat





                Kami berempat naik bus yang kelihatannya bersiap memutahkan penumpangnya itu. Aku tak punya pilihan, maka akulah yang naik paling terakhir. Tubuhku meringsek masuk, kepalaku tenggelam diantara bahu-bahu orang asing. Ke depan aku takut, ke belakang apalagi. Maka aku memutuskan untuk berhenti bernafas karena ruang rupanya tak memberiku kesempatan untuk memandang siapa pemilik bahu kokoh nan kekar di hadapanku.
                Namun, aku ditarik olehnya. Diantara tiga anaknya, aku-yang sulung-justru yang didekapnya. Beliau tak membiarkan aku berdiri rapuh diantara dua ketakutan. Harun, adik bungsuku itu pasti akan protes sejadi-jadinya. Namun, beruntungnya dia sudah diungsikan dan sedang di pangkuan ibu-ibu di seberang sana.
                Lain lagi dengan dek Mahfud, adikku yang tengah menempuh kelas XI itu pas di depan pintu bus. Rintik-rintik hujan rupanya tak membuat ia bergeming.
                “Ma’, kemarin kran Ma’had kan putus. Terus tak panggilin bapak-bapak tukang PAM. Eh, pas tak anter ke kamar  mandinya beliau tanya, asli mana mbak? Ya tak jawab dong, Pati, Pak! Terus bapaknya bilang, ooh pantes kok cantik. Menurut legenda sih, mbak.. kalau orang Pati itu masih keturunannya Roro Mendut,” ungkapku malam sebelumnya. Saat menemani ibuku nonton sinetron.
                 Beliau tersenyum, aku terbahak.
                “Ahaha, dusta banget kan!”
                Beliau selalu mengajariku untuk tidak Ge-Er.
Dan..maksudku juga bukan itu kok. Hanya membuktikan bahwa engkau tak menyesal melahirkanku. Senggaknya ada yang bilang bahwa anakmu cantik. Meskipun, kuprediksi bapak tukang kran itu sedang setengah ngelindur.
                “Lagi, pas Seminar Nasional yang dihadiri orang nomor satu di TVRI Jateng. Pas itu, aku tanya sama Si Bapak, ‘Saya kan mulai dunia jurnalistik dari pers kampus, terus bagaimana caranya agar saya dan teman-teman bisa juga berkontribusi untuk negeri melalui televisi?’ si bapak jawab, lhoh dunia jurnalistik kan memang dasarnya, Mbak. Tinggal aplikasinya aja ke visual atau broadcast. Mbak juga bisa jadi presenter,kok. Apalagi mbak cantik..”
                Suara bapak itu terputus oleh sorakan para peserta seminar. Dengan gaya ‘ketidakterimaan’ mereka, aku tahu bapak itu sedang berdusta! Ah, tapi biarlah. Tetap saja kuceritakan tragedi tragis ini pada ibuku yang menahan tawa itu.
                Selagi aku bisa melihat senyum lepasnya dan mendengar nasihatnya yang selalu mencemaskan pergaulanku itu. Selagi aku masih bisa bersanding dan menatap matanya yang tampak lelah itu.
                Beliau jatuh bersandar padaku, aku menjatuhkan pandanganku ke raut mukanya yang mulai menua. Ma’, saat tubuhmu mulai kehilangan fungsinya nanti.. apakah aku akan ada disisimu seperti ini? Batinku, sok visioner.
                Pagi berlinang dingin, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan memanen cabe di sawah. Letak sawah itu hanya beberapa meter di barat rumah nenekku. Setiap aku dolan ke Temanggung, sebisa mungkin aku tak pernah absen mengunjunginya. 
keceriaan jagoan-jagoanku.. tempatnya, cocok buat selfie 'kan?

                Sawah.. tempat selfie yang indah. Eeh, bukan seperti itu, kok! Memang sih, dominan warna hijau dengan background beberapa siluet gunung dan birunya atap langit membuatku tak ingin hengkang dari mata kamera. Tapi sense-nya ituh hlo!
                Dan disela-sela kami memanen cabe, selalu ada saja bahan untuk mendekatkan hatiku dan hati ibuku. Pasti! Dengan senang hati aku pasti senang menghabiskan waktu hanya berdua dengannya. 
ya, ini dia ibuku yang sedang memanen cabe

Aku bukan orang yang dengan blak-blakan bilang aku sayang ibuku. Menurutku, rasa yang seperti itu terlalu sayang untuk diungkapkan dengan untaian kata. Biarlah mata, bibir dan senyum ini yang bersua. Mengutarakan apa yang menggelayut dengan mesra.
                Sering, bus yang kami tumpangi tiba-tiba mengerem mendadak. Maka tak tanggung-tanggung tubuhku yang kata orang ‘langsing’ ini tentu terjepit sakit. Namun, untuk saat ini sakitku sedang melancong entah kemana. Mungkin saja ikut menyimak guyonan dan curhatan ibuku yang sedang mendekapku. Suaranya berpendar tak mengitari bahu-bahu orang asing. Berbisikpun, telingaku menangkapnya.
                17 tahun aku dibawah pengawasan ibuku, namun.. tak pernah aku melihat rindu dan sayangnya membuncah tercurah sepenuhnya untukku. Hatiku terkulum, semenjak liburan lebaran itu, aku belum bertatap muka dan berbagi rindu ini dengannya. Terkadang jarak membuat kita dekat. Jarak, dalam interpretasi ini.. ah, aku tak lagi bisa melukiskannya.
                “Bawen, Bawen..” suara kondektur bus yang sama-sama terjepit itu membuat momen ini kuyu.
                Segera aku berbalik 90 derajat dan mengincar telinga ibuku. “Ma’.. selamat hari Ibu, nggeh”
                Pipi kananku dikecupnya, kedua mataku menangkap sekat bahagia di kornea matanya. Sudah kubilang, kan? Bahkan kata-kata kehilangan kekuatan untuk mengungkapkan rasa.
                Aku turun, setelah mengecup pipi kirinya dan melempar senyum.
uchibbuki, ya ummiy


Kamis, 20 November 2014

19


                Menurut hematku, dia lebih suka bergumul di bawah hangatnya selimut dan membatasi riuhnya kenyataan ini dengan alur mimpi yang fiksi. Begitu juga dengan besok, besok, dan besoknya lagi. Sampai semua itu bercerita bahwa tak pernah terjadi apa-apa.
                Terima kasih atas ketidakpedulianmu, Azarine.... Ini lebih membuatku tertaut pada kenyataan yang baku.
                Huh, aku berbohong!
                “Lika.,”                                                      
                Hening.
                “Lika.,”
                Hening. Lagi.
                Air yang menerobos di tengah kegelapan berjatuhan semaunya. Jalan, atap, dan dedaunan basah menuai rekah. Apalagi hatiku, perasaanku.
                “Lika ayo kita pulang,”
                “Dia pasti datang..”
                Sementara malam mulai menua. Selasar Kartini yang memanjang kini berangsur lengang.
                “Kamu bisa sakit!”
                “Aku sudah sakit sejak hari itu, Nisrina..” Nisrina mengatupkan payung putih transparan yang melindungiku dari anak hujan.
                “Apakah kamu lebih mempedulikan Azarine daripada dirimu sendiri?”
                Aku menghela nafas. Memalingkan pandangan di sisi kananku. Nisrina, yang berusaha menghalau dingin dengan hati menggigil.
                “Ini adalah hari ulang tahun persahabatan kita. Aku tahu dia pasti kesini. Seperti yang sudah-sudah.”
                “Tapi ini sudah hampir pagi! Pasti dia sudah sampai airport,”
                Aku beringsut meraih kursi taman yang permanen itu. Mengendalikan emosi yang berjibaku diantara senyum sayu. Aku kasihan pada Nisrina, yang basah terkena lelehan air mata hujan.
                “Aku hanya tak ingin kehilangan dia,” sahutku menerawang.
                “Tak ingin kehilangan dia?” dengus Nisrina.
                “Aku hanya tak ingin kehilangan dia dengan cara seperti ini.”
                Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi tetap tak keluar dari clue, Azarine.
                “Pintar itu tidak penting. Yang penting semangat!” Azarine mengerlingkan mata. Menafikan kenyataan yang menciderai rasa. Katanya waktu itu.
                Jangan bayangkan dia seorang gadis tinggi semampai, cantik-menarik, dan mempesona. Menurutku Azarine lebih dari itu. Meski secara fisik tidak, secara hati kuyakin pasti. Iya.
                Dia juga bukan tipikal kutu buku dan punya bakat ustadzah. Ceramah sana ceramah sini. Tidak juga selalu menjadi juara di setiap mapel dan menjadi anak mas para guru di sekolah. Entahlah, aku bingung menunjukkan sikap Azarine yang mampu menghidupkan hidupku.
                “Terakhir dia bilang apa sama kamu?” pertanyaan Nisrina menguap.
                Aku beranjak menuju tempat yang teduh. Tempat yang biasa dipakai Azarine, aku dan Nisrina jatuh-bangun bersepatu roda.
                Sekilas aku melihat buku bersampul flanel yang tak beraturan. Familiar sekali.
                “I..tu kan punya Azarine?” Nisrina berteriak.
                 Se-general apapun kisahnya, tak pernah sekali-dua kali dia memperbolehkan aku dan Nisrina membacanya. Ini sangat privasi.
19 May 2013
                Mentari terlalu lelah untuk diposisikan di ranah diksi. Begitu juga dengan siang, senja dan malam. Lalu, ketika kuadron masa mengekploitasi segala? Harus kularikan kemana percik mimpi yang masih jadi bibit?

                Kesemuanya ditulis di tanggal 19, angka favorit Azarine. Dan selama 19 bulan itu, terjebak pada tanggal ini. 19 November 2014. Tepat di hari ulang tahun persahabatan kita yang ketiga.

19 November 2014
                Ketika aku tersadar bahwa aku sedang melakukan perburuan hebat, aku merasa seakan-akan jemari lentikku cepat menggapai dan sampai. Namun semua itu hanya oase fana di tengah mayapada. Tengoklah, keluarlah dari tempurung yang mengkungkungmu tanpa cela. Seakan-akan kaulah satu-satunya alasan kenapa Tuhan menciptakan tujuan.
            Malika, Nisrina..             
            Hadiahi persahabatan kita dengan nyata-nya mimpimu. Yang meski orang bilang hanya kembang tidur, yang meski orang bilang hanya lamunan ngawur.
            Percayalah, suatu saat nanti waktu akan bersua. Membiarkan kita berdiri diatas mimpi masing-masing.
 Dengan takdir yang membawa kita kembali bersama.

Azarine Sharaha
                “Aku tahu dia punya alasan..”
                Langit Salatiga selalu merona. Mungkin dia tersipu. Atau memang malu pada Azarine.
                “Sudah?” tanya Nisrina tanpa memandangku.
                Aku beranjak, menggandeng tangan Nisrina yang beku. Dan tertaut pada jam digitalnya
                00.19

                Angka favorit Azarine. Lagi.

Selasa, 18 November 2014

EPISODE HARI INI (PART EMPAT)

Yang membuatku sakit (sekali lagi) adalah ketika aku mengantar Novia untuk sholat di Mushola gedung utama itu. Ternyata-sedang-ada-gebyar-sejuta-buku. Hmmm, bau-bau buku yang erotis itu mengganggu hidungku. Apalagi di sebelah kiri pintu masuk disambut oleh Gramedia dengan bukunya yang most of them (judulnya) bertebaran di dunia sastrawi.
Yang Tere liye, yang A. Fuadi, yang Dee, dan yang tak kalah mentereng namanya.

Tanganku gatal ingin segera mencari ATM.

“Tak tunggu sambil liat-liat di bawah ya,Nov”
Aku segera kabur dari lantai dua yang berisi toilet dan mushola tersebut.
Duh,, kenapa tadi jauh-jauh ke Java Mall kalo pengen liat buku! Disini sedang menjadi surga buku rupanya. Yang sungguh-sangat menyakitkan, ada Diva Press yang juga buka stand.
Buku-buku fiksi yang berlabel harga ‘mahal’ itu sejenak berbaur pada sisi ekonomis bagi sebagian orang. Bayangkan! Harga sebenarnya yang bisa saja mencapai 40-50 ribu itu hanya dijual antara 15-30 ribu. It’s marvelous thing!
Dan aku? Sibuk menjelajahi sinopsis-sinopsis yang mengintip di cover belakang.
“Za!” teriak Novia.
“Eh, kamu kok bisa tahu kalo aku disini?” aku menoleh. Seraya merangkul beberapa judul buku yang berhasil mencuri perhatianku.
“Ya jelaslah. Wong bajumu yang paling mentereng. Kaya seragam shop keeper di Gramedia lagih.”
Aku meringis. Rok hitam dan chick-chick merah panjang ini terlihat flat. Untuk itu kupadukan dengan paris bunga merah kecil yang menyebar diatas background putih. Biar unsur girly nya dapet. Meskipun begitu terlihat manis (kerudungnya) tapi tetap saja kelihatan maskulin dengan jaket hitam abu-abu yang bergaya boyish.
Sudahlah, aku kan nggak lagi ikut fashion show!
***
“Jangan percaya pada ingatan,” ungkap Pak Edi Akhiles.
Ya! Aku sudah kembali di ruangan yang tadi.
“Dan ingatan itu akan mem-PHP kita,” lanjutnya.
Memang.
Pembahasan fiksi-non fiksi yang berakhir pukul 16.00 itu ditutup dengan foto-foto dan pembagian novel. Aku sendiri mendapatkan novel Zhaenal Fanani yang tebalnya 474 halaman berjudul Rendez-Vouz di Selat Hormus.
Lalu meluncurlah kita berdua ke tempat stand Diva Press berada. Dan mendapatkan apa yang kita cari sebelumnya. Tepatnya setelah ikut bereksis ria di depan background “peka kota”. And inilah wajah kami yang kucel.

4 buku yang ‘hanya’ merogoh kocek senilai 50 ribu. It’s so cheap,right?
Ada satu misi yang harus kita penuhi sebelum kembali ke Salatiga tercinta. Berkunjung ke Unnes!
Aku beranjak mengamati peta Kota Semarang setelah melepas lelah di teras masjid raya candi lama. Mengamati dan menganalogikan pada keadaan yang sebenarnya. Memposisikan dan meraba-raba koordinat tempat tujuan kami selanjutnya.

Oke, fix! Berbekal pengetahuan bahwa letak Unnes itu PLN Jatingaleh masuk, kami berangkat kesana dengan segera. Beberapa kampus asing menyapa. Pelni, Untag, Unika dan sekolah tinggi lainnya. Benar juga kata shohibku yang akan kukunjungi itu, jalannya naik-turun belok-belok. Bahkan ada yang tingkat kemiringannya sampai 45 derajat.
“Asyik juga pergi pake motor,” kataku dalam hati. Sekilas ada biji sombong ikut berpartisipasi.
Belum sempat aku beristighfar, ada semacam suara ledakan kecil dari motor ini. Sontak kita berdua kaget. Namun, dasar kita memang tidak punya feeling dan keahlian dalam mekanik, ya cuek saja dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
“Nov, Nov, Nov...”
Aku hanya memegangi rem depan dan menginjak rem belakang demi menjaga agar kita tidak jatuh ke belakang. Pasalnya, aku menyadari bahwa kopling di kaki kiriku tak berfungsi. Tidak apa-apa kalau kita pas di jalan yang datar. Lah ini, pas jalannya nanjak!
“Kayaknya, ini rantainya deh,” hipotesaku singkat. Tentunya setelah terengah-engah menepikan motor ini dari jalan raya.
“Trus gimana? Mana nggak ada bengkel,lagih!”
“Coba tanya sama bapak itu.”
Dan kami menerima saran bapak itu. Yaitu dengan mencari bengkel di depan. Itu artinya kita harus mendorong motor ini di jalan yang uuwh.
Jelas lagi, kita tidak punya background olahraga. Jadi, dengan sekuat jiwa raga mengerahkan segala kemampuan untuk... mendorong motor. Malangnya, orang yang berlalu lalang itu memperhatikan dan menoleh pada wajah nelangsa kami.
“Iih.. kita kok ya berhenti pas di depan kampus! Kan jadi diliatin banyak orang...”
Udahlah, mereka juga ga kenal kita! Jawabku, dalam hati. Di dalam hati juga aku meminta maaf pada Allah dan  meminta untuk memudahkan masalah ini.
Akhirnya, ada seorang bapak baik hati yang mau menolong kami mendorong motor ini.*embrassed
***

 (To be Continued-Lagi)